One Month in Perth

Gak terasa udah satu bulan nih disini. Tapi rasanya udah lama banget, abis rasa kangen ama sodara2 dan temen2 di Indo ga ilang2 juga nih 😦

Tanggal 1 Feb 2010 kemaren, Dino resmi sekolah. Sekarang masuk PrePrimary, setingkat dengan TK. Hari pertama kami lalui dengan sukses. Walaupun Dino belum bisa bahasa Inggris, tapi dia sudah berani ditinggal di sekolah sendiri. Dan juga dengan support dari guru-guru disekolahnya yang warm dan care dengan semua anak. Mereka bilang, “just leave him alone, enjoy your time. He will be OK.” Yang mengejutkan lagi, biaya sekolah disini sangat murah bila dibandingkan dengan diJakarta. Dengan perhitungan pajak yang sebenarnya sama dengan di Jakarta (dengan catatan jumlah penghasilan yang sama) maka disini semua serba jelas penggunaan pajaknya, jadi sesuai antara apa yang kita bayar dengan yang kita rasakan. Tidak seperti diJakarta, dimana kita bayar pajak banyak tapi hasilnya tidak ada. Pendidikan tetap mahal, rumah sakit juga mahal, tol dan barang2 kebutuhan sehari-hari tiap tahun naik harga tapi pendapatan belum tentu naik (buat yang swasta), so that bukan tambah makmur tapi tambah ancur 😦

Disini semua serba berbeda dengan di Jakarta, jangan mencari yang namanya tukang parkir, semua serba elektronik, kamu harus mengambil tiket sendiri, kemudian kamu taruh buktinya di dashboard mobil. Begitu juga mengisi bensin, jangan berharap ada orang yang akan mengisikan tangki bensin mobilmu, kamu harus mengisi sendiri kemudian bayar dikasir yang ada didalam bangunan di pom bensin tersebut. Di supermarket pun seperti itu, jarang sekali aku lihat SPG khusus untuk setiap produk, jadi disini kita memang dididik untuk mandiri.

Untuk pergi kedokter, biasanya kita harus membuat appointment jauh2 hari, tapi untuk keadaan emergency bisa saja langsung pergi ke rumah sakit. Tapi ada juga dokter yang bisa buat appointment langsung, jadi pagi kita telepon, siang bisa langsung datang. Disini semua harus pergi ke GP, tidak harus ke spesialis, untuk konsultasi ke spesialis harus melalui rujukan dari GP dan untuk bertemu spesialis bisa sampai 2 bulan sebelumnya untuk membuat appointment dengan dokter tersebut. Tapi jangan khawatir, untuk GP pun bisa saja seorang profesor, seperti kemaren waktu anakku sakit, kami ke dokter GP dan dia adalah seorang profesor. Kalau dijakarta, tentu saja Profesor pasti seorang dokter spesialis. Dan uniknya lagi disini dokter tidak menulis resep dengan tangan tapi semua sudah komputerisasi dan langsung cetak resep dengan menggunakan komputer. Dokter tidak ditemani dengan suster didalam kamar prakteknya. Jadi dia sendiri yang menangani sampai dengan mencetak resepnya. Bahkan dokter tersebut mau mempraktekkan cara penggunaan obatnya dengan bersusah payah mencarikan alat-alat untuk menggunakan obat tersebut.

Ok, selanjutnya aku akan menceritakan tentang perbedaan car seat di Jakarta dan di Aussie. Karena standar keamanan dan peraturan lalu lintas Aussie yang sangat ketat, maka akhirnya kami membeli lagi car seat yang memenuhi standar Australia.

But enough for today, see u again soon…..

~ oleh Wulan pada Februari 15, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: